W.e.e.k.e.n.d
Mengapa terus bekerja saat weekend? , tanyamu. Aku terganggu dengan kata ‘terus’, aku tak paham maksudnya. Aku bekerja 5 hari, dengan rata-rata waktu kerja 5 jam. Apanya yang ‘terus’?
Ya intinya kamu bekerja saat orang lain tidak bekerja, libur akhir pekan, weekend. Begitu jelasmu. ‘Orang lain’.. ah, persetan. Mengapa aku harus tidak bekerja karena orang lain tidak bekerja? Lalu harus membereskan urusan non pekerjaan di saat weekend, termasuk berkencan, berjubelan dengan orang lain yang juga tidak punya waktu kosong lagi selain weekend.
Tapi aku libur saat weekend, Cinta, cuma itu waktu yg aku punya untuk menemuimu.., kamu mulai meratap. Sial.., batinku, jangan memojokkanku untuk menjadi bengis.
Aku bosan dengan apel malam Sabtu, dengan pertemuan-pertemuan fisik tapi bukan pertemuan hati. Entah mengapa hatimu hanya bisa tersentuh dengan cara-cara ‘pada umumnya’, yang dilakukan berulang-ulang oleh hampir semua orang sampai tak bisa lagi dirasakan maknanya. Kamu melakukan, ratusan juta orang lain juga melakukannya; apa istimewanya? Menyempatkan diri di saat longgar waktumu; apa istimewanya?
Tak jera kau bertanya, kali ini berusaha mengoyak hati—sayangnya dengan pertanyaan yang pasaran pula.
Jawab dulu, mengapa kamu bekerja di saat weekend? Apakah itu alibimu agar tak terlihat sendirian di malam wakuncar? Sekarang kamu punya aku yang akan mengisi malam minggumu!
….. aku pergi. Percayalah, orang yang lekat dengan ‘biasanya’ akan segera mengkritikmu dengan ‘kata orang’ dan menyimpulkan dengan ‘pokoknya’. Tidak ada gunanya menjelaskan pada orang yang tidak bisa melihat sisi lain dirimu sebagai sesuatu yang spesial. Berubah, adalah pilihan. Karenanya kamu harus memberikan alasan yang tepat agar perubahan menjadi sesuatu yang dipilih, bukan dipaksakan. Jika tidak, bersiaplah menerima hal yang tidak bisa diubah.
